Mataram — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, Drs. TGH. Muchlis Ibrahim, M.Si., bersama 10 dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penelitian Pengembangan Kolaborasi Internasional yang diselenggarakan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram, Selasa, 4 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Pejanggik, Lombok Raya Hotel Mataram, tersebut mengangkat tema “Potret Kerukunan Antarumat Beragama di Nusa Tenggara Barat: Realita, Tantangan, dan Solusi.” FGD dimulai pukul 08.30 WITA dan melibatkan akademisi, tokoh agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan di Nusa Tenggara Barat.
FGD ini merupakan bagian dari Penelitian Pengembangan Kolaborasi Internasional UIN Mataram yang berjudul “The Role of Government and Non-governmental Organization (NGO) Toward Peace Building: Comparative Study Between FKUB in Indonesia and CCD in Morocco.” Penelitian tersebut mengkaji peran pemerintah dan organisasi nonpemerintah dalam membangun perdamaian dan memperkuat kerukunan antarumat beragama.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber utama. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi NTB, Dr. Buya Muhammad Subki Sasaki, M.H., menyampaikan materi tentang realitas, tantangan, dan solusi kerukunan antarumat beragama di NTB. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTB, Dr. TGH. Badrun, M.Pd., membahas tantangan kerukunan dari perspektif sosial, politik, dan keagamaan.
Sementara itu, Drs. TGH. Muchlis Ibrahim, M.Si., selaku Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, menyampaikan materi berjudul “Strategi Penguatan Kerukunan Antarumat Beragama melalui Kolaborasi Pemerintah, FKUB, dan Organisasi Masyarakat.” Materi tersebut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, FKUB, dan organisasi masyarakat dalam menjaga kehidupan yang aman, harmonis, dan toleran.
Keikutsertaan 10 dosen STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan akademik dan kelembagaan mengenai moderasi beragama, perdamaian, serta pengelolaan keberagaman. Kehadiran para dosen juga menunjukkan komitmen kampus untuk terus terlibat dalam forum ilmiah dan dialog lintas lembaga yang membahas persoalan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, para dosen memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, memberikan tanggapan, serta menyampaikan masukan terhadap berbagai realitas dan tantangan kerukunan antarumat beragama di Nusa Tenggara Barat. Perspektif akademisi diharapkan dapat memperkaya perumusan rekomendasi penelitian serta menghasilkan strategi penguatan kerukunan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi, pendalaman materi, perumusan temuan, masukan, dan rekomendasi penelitian. Hasil FGD kemudian disimpulkan oleh tim peneliti sebagai bahan pengembangan penelitian dan rekomendasi bagi pihak-pihak terkait.
Partisipasi pimpinan dan dosen STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny dalam kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam merawat persaudaraan, menumbuhkan sikap moderat, dan memperkuat kehidupan masyarakat yang damai di tengah keberagaman. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong pengembangan pendidikan dan dakwah yang inklusif, humanis, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.


